Oleh:Woody Mckar Dr.
Sebagai seorang supir selama beberapa tahun di sekitar awal tahun
1910-an, ayahku menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam
memberikan uang kepada banyak orang, dan sadar bahwa mereka tidak akan
pernah mampu mengembalikan uang itu.
Ada satu cerita yang
menonjol dalam kenanganku di antara banyak cerita yang disampaikan
ayahku kepadaku. Pada suatu hari, ayahku mengantar majikannya ke sebuah
kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke
kota itu, mereka berhenti untuk makan sandwich sebagai ganti santap
siang.
Ketika mereka sedang makan, beberapa orang anak lewat,
masing-masing menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng.
Salah seorang di antara anak-anak itu pincang. Setelah memperhatikan
lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa anak itu menderita club foot. Ia
keluar dari mobil dan menghentikan anak itu.
Senin: 02 Agustus 2013
Kupu Kupu yang Mencari Kebahagiaan
Suatu ketika, terdapat seorang pemuda di tepian telaga. Ia tampak
termenung. Tatapan matanya kosong, menatap hamparan air di depannya.
Seluruh penjuru mata angin telah di lewatinya, namun tak ada satupun
titik yang membuatnya puas. Kekosongan makin senyap, sampai ada suara
yang menyapanya. Ada orang lain disana.
"Sedang apa kau disini
anak muda?" tanya seseorang. Rupanya ada seorang kakek tua. "Apa yang
kau risaukan..?" Anak muda itu menoleh ke samping, "Aku lelah Pak Tua.
Telah berkilo-kilo jarak yang kutempuh untuk mencari kebahagiaan, namun
tak juga kutemukan rasa itu dalam diriku. Aku telah berlari melewati
gunung dan lembah, tapi tak ada tanda kebahagiaan yang hadir dalam
diriku. Kemana kah aku harus mencarinya? Bilakah kutemukan rasa itu?"
Kakek
Tua duduk semakin dekat, mendengarkan dengan penuh perhatian. Di
pandangnya wajah lelah di depannya. Lalu, ia mulai bicara, "di depan
sana , ada sebuah taman. Jika kamu ingin jawaban dari pertanyaanmu,
tangkaplah seekor kupu-kupu buatku. Mereka berpandangan.
"Ya...tangkaplah seekor kupu-kupu buatku dengan tanganmu" sang Kakek
mengulang kalimatnya lagi.
Perlahan pemuda itu bangkit.
Langkahnya menuju satu arah, taman. Tak berapa lama, dijumpainya taman
itu. Taman yang yang semarak dengan pohon dan bunga-bunga yang
bermekaran. Tak heran, banyak kupu-kupu yang berterbangan disana. Sang
kakek, melihat dari kejauhan, memperhatikan tingkah yang diperbuat
pemuda yang sedang gelisah itu.
Anak muda itu mulai bergerak.
Dengan mengendap-endap, ditujunya sebuah sasaran. Perlahan. Namun, Hap!
sasaran itu luput. Di kejarnya kupu-kupu itu ke arah lain. Ia tak mau
kehilangan buruan. Namun lagi-lagi. Hap!. Ia gagal. Ia mulai berlari tak
beraturan. Diterjangnya sana-sini. Ditabraknya rerumputan dan tanaman
untuk mendapatkan kupu-kupu itu. Diterobosnya semak dan perdu di sana .
Gerakannya semakin liar.
Adegan itu terus berlangsung, namun
belum ada satu kupu-kupu yang dapat ditangkap. Sang pemuda mulai
kelelahan. Nafasnya memburu, dadanya bergerak naik-turun dengan cepat.
Sampai akhirnya ada teriakan, "Hentikan dulu anak muda. Istirahatlah."
Tampak sang Kakek yang berjalan perlahan. Tapi lihatlah, ada sekumpulan
kupu-kupu yang berterbangan di sisi kanan-kiri kakek itu. Mereka terbang
berkeliling, sesekali hinggap di tubuh tua itu.
"Begitukah
caramu mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Menabrak-nabrak tak
tentu arah, menerobos tanpa peduli apa yang kau rusak?" Sang Kakek
menatap pemuda itu. "Nak, mencari kebahagiaan itu seperti menangkap
kupu-kupu. Semakin kau terjang, semakin ia akan menghindar. Semakin kau
buru, semakin pula ia pergi dari dirimu."
"Namun, tangkaplah
kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu bukan benda yang
dapat kau genggam, atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah
kebahagiaan itu dalam hatimu. Telusuri rasa itu dalam kalbumu. Ia tak
akan lari kemana-mana. Bahkan, tanpa kau sadari kebahagiaan itu sering
datang sendiri."
Kakek Tua itu mengangkat tangannya. Hap,
tiba-tiba, tampak seekor kupu-kupu yang hinggap di ujung jari. Terlihat
kepak-kepak sayap kupu-kupu itu, memancarkan keindahan ciptaan Tuhan.
Pesonanya begitu mengagumkan, kelopak sayap yang mengalun perlahan,
layaknya kebahagiaan yang hadir dalam hati. Warnanya begitu indah,
seindah kebahagiaan bagi mereka yang mampu menyelaminya. ***
Mencari
kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit, bagi mereka
yang terlalu bernafsu, namun mudah, bagi mereka yang tahu apa yang
mereka cari. Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini,
menabrak sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita
dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang, ke seluruh penjuru arah.
Kita pun dapat meraihnya dengan bernafsu, seperti menangkap buruan yang
dapat kita santap setelah mendapatkannya.
Namun kita belajar.
Kita belajar bahwa kebahagiaan tak bisa di dapat dengan cara-cara
seperti itu. Kita belajar bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang dapat di
genggam atau benda yang dapat disimpan. Bahagia adalah udara, dan
kebahagiaan adalah aroma dari udara itu. Kita belajar bahwa bahagia itu
memang ada dalam hati. Semakin kita mengejarnya, semakin pula
kebahagiaan itu akan pergi dari kita. Semakin kita berusaha meraihnya,
semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh.
Cobalah temukan
kebahagiaan itu dalam hatimu. Biarkanlah rasa itu menetap, dan abadi
dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang
kita lakukan. Dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani h id up
kita. Dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah
bahagia itu, dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita.
Saya
percaya, bahagia itu ada dimana-mana. Rasa itu ada di sekitar kita.
Bahkan mungkin, bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tak
pernah memperdulikannya. Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di
sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.